
Home Beli Tiket Tanya Jawab Info untuk Mitra Hubungi Kami
End of Times / Akhir Dari Waktu?
Mohon bersabar, loading gambar-gambar penting dibawah mungkin agak lambat bila anda belum menggunakan internet yang cepat...
Suku Maya di Amerika Latin telah menghitung bahwa 21 Desember 2012 adalah Akhir Dari Waktu.
6.000 tahun yang lalu, bangsa Sumeria di Timur Tengah telah mengetahui bahwa Planet X atau Nibiru akan kembali lagi dalam waktu 3.600 tahun.

Demikian juga Nostradamus dari Eropa telah menghitungnya dengan tepat ke tahun 2012.
Apa makna dari semua ini?
Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, tetapi dari segi astronomi,
pada tanggal tersebut Nibiru akan memasuki jalur lintasan tata surya kita.
Mungkinkah ilustrasi dibawah ini yang akan terjadi? Dapatkan jawabannya di seminar kami.
METEOR / BATUAN PANAS DARI EKOR NIBIRU KE BUMI?

LINTASAN NIBIRU
Inikah alternatif terburuk dari 8 kemungkinan yang dapat terjadi?



Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Kini saatnya membuka pikiran kita...
Teks adalah asli. Huruf tebal dibuat oleh kami
Kalender Kuno Maya Ramalkan Kejadian Besar 2012
Isu Kiamat Tahun 2012 yang Meresahkan
2012,
Masa Paling Sakral dan Berbahaya?
Global Warming
-------------------------------------------------------
Kalender Kuno Maya Ramalkan Kejadian Besar 2012
Isu Kiamat Tahun 2012 yang Meresahkan
Senin, 23 Februari 2009 | 12:27 WIB
Kalender suci bangsa Maya atau Tzolkin adalah pintu memasuki pemikiran suatu
peradaban sangat maju di dunia Barat sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa.
Para ahli meyakini, astronomi Maya Kuno adalah pencapaian intelektual yang
menakjubkan, setara dengan geometri Mesir Kuno dan filosofi Yunani. Banyak
orang percaya, kalender berusia 2.000 tahun itu lebih akurat dibandingkan
kalender Gregorian yang digunakan sejak tahun 1582.
Bangsa Maya Kuno hidup pada awal milenium pertama sesudah Masehi di wilayah
Mesoamerika, yang membentang dari Meksiko Utara ke Honduras, di utara
Semenanjung Yucatan. Penduduknya berjumlah 5 sampai 14 juta orang, bermukim di
kota-kota yang kini dikenal sebagai Meksiko Selatan, Guatemala, dan Belize.
Dalam The Mayan Calendar and the Transformation of Consciousness (2004), Carl
Johan Calleman PhD menulis, selain kebudayaan yang tinggi di bidang seni dan
arsitektur yang ditemukan di kawasan-kawasan piramida, seperti Palenque, Tikal,
Copán, dan Chitchén Itzá, bangsa Maya Kuno sangat dikenal kemampuannya dalam
ilmu astronomi dan matematika. Bangsa inilah yang pertama menggunakan angka nol
(0).
Bangsa Maya Kuno terobsesi pada waktu. Menurut Lawrence E Joseph dalam
Apocalypse 2012 (2007), mereka menciptakan sedikitnya 20 kalender, disesuaikan
dengan berbagai siklus, mulai dari kehamilan hingga panen, bulan hingga Venus.
Penghitungan orbitnya sangat akurat dengan selisih hanya satu hari setiap 1.000
tahun.
Reruntuhan kota-kota mereka, menurut Jared Diamond dalam Collapse: How Societies
Choose to Fail or Survive (2005), baru ditemukan tahun 1839 oleh ahli hukum dari
Amerika Serikat, John Stephens, bersama juru gambar asal Inggris, Frederick
Catherwood. Eksplorasi itu menemukan 44 kota dan tempat.
Terobsesi siklus
Yang terpenting bagi masyarakat Maya Kuno adalah etos kosmis. Kedamaian berarti
sikap harmoni dengan gerakan abadi alam semesta. Akibat terpaku pada siklus,
mereka tidak menyadari perubahan di sekitar mereka.
Hal ini mungkin menjelaskan keambrukan bangsa itu. Meski ada yang meyakini
mereka moksa, Jared Diamond secara metodologis menjelaskan, penyebabnya adalah
hancurnya daya dukung lingkungan karena bertani dan membabat hutan secara
berlebihan, serta pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi.
Pandangan itu dikonfirmasi penelitian Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika
Serikat (NASA) yang menemukan serbuk sari terperangkap dalam sedimen berusia
1.200 tahun—menjelang keruntuhan peradaban Maya—di sekitar wilayah Tikal. Itu
pertanda deforestasi masif; pepohonan lenyap, tinggal rumput.
Penyebab lain adalah perang terus-menerus memperebutkan kekuasaan dan sumber
daya alam. Kurang dari satu abad, jumlah penduduk berkurang 80-90 persen.
Menurut Diamond, perhatian para pemimpin saat itu tampaknya berpusat pada
masalah jangka pendek. Mereka serakah, gila kuasa, dan menindas.
Namun, keruntuhan dramatis itu tidak menihilkan kearifan bangsa Maya Kuno,
khususnya tentang ramalan bencana yang belum tertandingi. Penyerbuan Spanyol
atas perintah Roma tahun 1519 sudah diramalkan dengan bantuan bintang-bintang di
angkasa.
Ramalan itu menyelamatkan teks-teks kuno—yang masih disimpan para tetua di
pedalaman—di antara ribuan teks yang dibakar penjajah dan empat buku tentang
Kalender Maya yang kemudian ditemukan di Eropa.
Sekarang Kalender Maya meramalkan kejadian di dunia pada 21/12/2012!
(MH)
Sumber : KOMPAS
Isu Kiamat Tahun 2012 yang Meresahkan
Rabu, 26 November 2008 | 13:07 WIB
Oleh Yuni Ikawati
Di internet saat ini tengah dibanjiri tulisan yang membahas prediksi suku Maya
yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala tentang kiamat yang bakal
terjadi pada 21 Desember 2012.
Pada manuskrip peninggalan suku yang dikenal menguasai ilmu falak dan sistem
penanggalan ini, disebutkan pada tanggal di atas akan muncul gelombang galaksi
yang besar sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka Bumi ini.
Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui dasar perhitungannya, menurut
Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena yang dapat
diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari.
Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa
negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 1975.
Dijelaskan, Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, badai
Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME).
Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66
juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar
yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik.
Gangguan cuaca Matahari ini dapat memengaruhi kondisi muatan antariksa hingga
memengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan,
transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS)
dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang
frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kehidupan atau kesehatan manusia.
”Karena gangguan magnet Bumi, pengguna alat pacu jantung dapat mengalami
gangguan yang berarti,” ujar Sri.
Langkah antisipatif
Dari Matahari, miliaran partikel elektron sampai ke lapisan ionosfer Bumi
dalam waktu empat hari, jelas Jiyo Harjosuwito, Kepala Kelompok
Peneliti Ionosfer dan Propagasi Gelombang Radio. Dampak dari serbuan partikel
elektron itu di kutub magnet Bumi berlangsung selama beberapa hari. Selama waktu
itu dapat dilakukan langkah antisipatif untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Mengantisipasi munculnya badai antariksa itu, lanjut Bambang, Lapan tengah
membangun pusat sistem pemantau cuaca antariksa terpadu di Pusat Pemanfaatan
Sains Antariksa Lapan Bandung. Obyek yang dipantau antara lain lapisan ionosfer
dan geomagnetik,serta gelombang radio. Sistem ini akan beroperasi penuh pada
Januari 2009 mendatang.
Langkah antisipatif yang telah dilakukan Lapan adalah menghubungi pihak-pihak
yang mungkin akan terkena dampak dari munculnya badai antariksa, yaitu Dephankam,
TNI, Dephub, PLN, dan Depkominfo, serta pemerintah daerah. Saat ini pelatihan
bagi aparat pemda yang mengoperasikan radio HF telah dilakukan sejak lama, kini
telah ada sekitar 500 orang yang terlatih menghadapi gangguan sinyal radio.
Bambang mengimbau PLN agar melakukan langkah antisipatif dengan melakukan
pemadaman sistem kelistrikan agar tidak terjadi dampak yang lebih buruk. Untuk
itu, sosialisasi harus dilakukan pada masyarakat bila langkah itu akan diambil.
Selain itu, penerbangan dan pelayaran yang mengandalkan satelit GPS sebagai
sistem navigasi hendaknya menggunakan sistem manual ketika badai antariksa
terjadi, dalam memandu tinggal landas atau pendaratan pesawat terbang.
Perubahan densitas elektron akibat cuaca antariksa, jelas peneliti dari PPSA
Lapan, Effendi, dapat mengubah kecepatan gelombang radio ketika melewati
ionosfer sehingga menimbulkan delai propagasi pada sinyal GPS.
Perubahan ini mengakibatkan penyimpangan pada penentuan jarak dan posisi. Selain
itu, komponen mikroelektronika pada satelit navigasi dan komunikasi akan
mengalami kerusakan sehingga mengalami percepatan masa pakai, sehingga bisa tak
berfungsi lagi.
Saat ini Lapan telah mengembangkan pemodelan perencanaan penggunaan frekuensi
untuk menghadapi gangguan tersebut untuk komunikasi radio HF. ”Saat ini tengah
dipersiapkan pemodelan yang sama untuk bidang navigasi,” tutur Bambang.
Yuni Ikawati
Sumber : Kompas Cetak
2012, Masa Paling Sakral dan Berbahaya?
Senin, 23 Februari 2009 | 09:54 WIB
Maria Hartiningsih
Heboh ramalan tahun 2012 sudah berlangsung lama, tetapi baru meluas sekitar 10
tahun terakhir. Penelitian tentang hal itu dilakukan banyak ahli dari
berbagai bidang ilmu dan puluhan buku sudah diterbitkan.
Observasi astronomi sangat akurat selama berabad-abad para astronom genius Maya
memberi pertanda, tanggal 21/12/2012 akan menjadi kelahiran zaman baru.
Masa itu paling sakral sekaligus paling berbahaya dalam sejarah Bumi.
Menurut Laurence E Joseph dalam Apocalypse 2012, tanggal 21/12/2012 merupakan
titik balik musim dingin tahunan ketika belahan Utara Bumi berada di titik
terjauh dari Matahari sehingga siang sangat pendek.
Pada tanggal itu, tata surya dengan Matahari sebagai pusatnya, seperti diyakini
bangsa Maya, akan menutupi pemandangan pusat Bimasakti dari Bumi. Para astronom
Maya Kuno menganggap titik pusat ini sebagai rahim Bimasakti. Keyakinan itu
didukung banyak pembuktian para astronom kontemporer bahwa di situlah tempat
terciptanya bintang-bintang galaksi.
Saat ini, sejumlah lembaga penelitian ilmiah mengenai atmosfer, ruang angkasa,
dan teknologi di Barat menduga ada lubang hitam tepat di pusat itu yang menyedot
massa, energi, dan waktu, yang menjadi bahan baku penciptaan bintang masa depan.
Untuk pertama kalinya dalam 26.000 tahun, energi yang mengalir ke Bumi dari
titik pusat Bimasakti akan sangat terganggu pada 21/12/2012, tepatnya pukul
11.11 malam. Semua itu disebabkan guncangan kecil pada rotasi Bumi.
Bangsa Maya yakin, sesingkat apa pun terputusnya pancaran dari pusat galaksi
akan merusak keseimbangan mekanisme vital Bumi dan tubuh semua makhluk, termasuk
manusia.
Memaknai ramalan
Ada yang menginterpretasikan 21/12/2012 sebagai ”kiamat”, tetapi banyak pula
yang memaknainya secara kontemplatif. Pakar psikologi transpersonal dari AS, Dr
Beth Hedva, yang ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu, mengibaratkan Ibu Bumi
sudah sangat dekat waktunya melahirkan. Proses kelahiran tak hanya diiringi
darah dan penderitaan, tetapi juga harapan dan janji.
”Selalu terjadi kontraksi,” ujar Beth Hedva. Wujudnya perang, kekejian, dan
bencana akibat penghancuran lingkungan dan perusakan atmosfer Bumi—dampak
kebencian dan keserakahan manusia—serta bencana yang disebabkan faktor manusia
dan nonmanusia.
Dalam antologi The Mystery 2012: Predictions, Prophecies & Possibilities (2007),
ahli sistem komputer untuk ruang angkasa yang menjembatani ilmu pengetahuan dan
spiritualitas, Gregg Braden, menyatakan, yang terpenting bukan apa yang akan
terjadi, tetapi bagaimana potensi kolektif muncul dari pemahaman holistik dan
kesadaran tentang siapa diri kita di tengah Semesta Raya.
Ahli fisika biologi dan ahli kanker pada Organisasi Kesehatan Dunia, Carl Johan
Calleman, peneliti Kalender Maya, mengingatkan pada transformasi kesadaran
manusia.
Robert K Stiler, Direktur Program Kajian Amerika Latin Universitas Stetson di
DeLand, Florida, AS, menambahkan, ”Apapun maknanya, bangsa Maya mengajak kita
merengkuh hidup berkualitas dan kesehatan planet Bumi.”
Tahun 2012 adalah tahun berjaga dengan menyadari teknologi saja tak
menjamin keberlangsungan Bumi. Begitu diingatkan José Argüelles, PhD, ahli
Kalender Maya dan pakar sejarah seni dan estetika dari Universitas Chicago.
”Kalau kita tidak berjaga, planet Bumi akan hancur secara alamiah karena
sekarang sudah jauh dari seimbang,” ia menambahkan.
”Pikiran manusia secara massal dikontrol dan dimanipulasi pemerintah dan
institusi-institusi yang menjadi faktor kunci kehidupan modern.”
Christine Page, dokter medis, ahli homeopati dan kesehatan holistik,
menjelaskan, tanggapan pada zaman baru sangat tergantung pada kemampuan memahami
kesalingterkaitan dan menghargai Ibu Bumi. ”Alam dan semua makhluk hidup di Bumi
adalah bagian diri
kita yang harus diperlakukan penuh martabat, penghargaan, dan cinta,” ujarnya.
Jadi, pilihan ada di tangan
manusia: membiarkan planet Bumi hancur atau melanjutkan evolusinya. Mari kita
renungkan….
GLOBAL WARMING
Senin, 15 September 2008 | 16:29 WIB
OSLO, SENIN - Fakta bahwa lapisan es kutub utara mungkin mencair seluruhnya pada
puncak musim panas tahun ini merupakan bukti efek pemanasan global yang tidak
dapat dicegah. Karena itu, organisasi lingkungan World Wildlife Fund (WWF)
mendesak komitmen baru untuk mengatasi perubahan iklim segera disepakati.
WWF menyatakan hasil pemantauan terakhir menunjukkan bahwa saat ini luas lapisan
es di kutub utara telah berada pada titik terendah kedua sepanjang sejarah. Pada
puncak musim panas, kutub utara bisa saja benar-benar bebas es jika laju
mencairnya es tak dapat dicegah.
"Jika Anda menghitung berdasarkan laju pencairan itu, mungkin luas lapisan es
tahun ini akan lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak pemantauan
dilakukan," ujar Martin Sommerkorn, penasihat senior iklim program Arktik WWF.
Ia mengatakan, tahun ini mungkin untuk pertama kalinya perairan Arktik dapat
dilalui kapal dengan bebas di musim panas. Es mungkin benar-benar mencair
sepenuhnya termasuk di daerah Northwest Passage di Amerika Utara dan Northeast
Passage di Rusia yang selama musim panas biasanya masih terhubungkan es.
Pusat Data Salju dan Es AS menunjukkan luas laisan es berada pada titik terendah
kedua sepanjang sejarah pada awal September 2008. Luas lapisan es masih mungkin
terus berkurang hingga musim panas berakhir.
Bulan lalu, ilmuwan dari Universitas Trent Kanada melaporkan bahwa beting es
seluas Kota Manhattan pecah dan terlepas dari Pulau Ellesmere yang ada di Arktik
bagian utara. Hal tersebut menunjukkan menipisnya lapisan es sehingga tidak kuat
menopang seluruh bagian beting es.
"Hal tersebut juga menjadi tanda bahwa spesies seperti beruang kutub sedang
menghadapi pengaruh negatif akibat perubahan iklim," ujar Sommerkorn. Perubahan
ini juga berdampak pada penduduk yang tinggal di sekitar Arktik yang sebagian
hidupnya tergantung pada keberadaan beruang kutub.
Lapisan es di Arktik mengalami dinamika sepanjang tahun, mencair saat musim
panas dan kembali membeku di musim dingin. Sebagain kawasan Arktik memang berupa
lautan beku yang dikelilingi daratan di sekitarnya.
Dari tahun ke tahun, laju pencairan es lebih tinggi daripada laju pembekuannya
kembali. Artinya semakain banyak cairan yang dilepaskan dari kutub utara ke
lautan lepas sehingga turut menyumbang kenaikan muka air laut di seluruh dunia.
Berkurangnay luas lapisan es juga turut meningkatkan suhu atmosfer. Sebab, es
lebih banyak memantulkan cahaya Matahari daripada menyerap seperti air laut.
"Jika es hilang, perairan Arktik akan menyerap lebih banyak panas sehingga
menambah pemanasan global," ujar Sommerkorn.
Pemanasan global tak hanya dihadapi Arktik namun juga seluruh wilayah di
permukaan Bumi.
Dengan alasan itu, WWF mendesak pembicaraan mengenai kesepakatan baru berbagai
negara untuk mengatasi perubahan iklim harus dipercepat. Protokol Kyoto yang
sekarang menjadi pegangan bersama akan berakhir tahun 2012. Kesepakatan baru
untuk melakukan langkah lebih baik harus dapat disepakati seusia rencana pada
konvensi yang akan digelar di Kopenhagen, Denmark, pada Desember 2009.
WAH
Sumber : Associated Press
Home Beli Tiket Tanya Jawab Info untuk Mitra Hubungi Kami
© 2009 OneWorld Foundation